Senin, 09 Juli 2012

Pancasila Dalam Dunia Modern



Bangsa kita, kini dalam arena gobalisasi dan modernnisasi. Apakah Pancasila sebagai dasar Negara, mampu mengawal bangsa dan Negara Indonesia? Satu pertanyaan yang muncul dalam perbincangan. Sebagai dasar Negara,  pancasila dirumuskan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia, plural dan majemuk

Modernitas mendorong masyarakat ikut menyelaminya, meski tidak semua masyarakat mempersiapkan. alhasil modernitas yang dikembangakan dunia barat belum cukup-kembang di tengah-tengah masyarakat, seiring kemajuan teknologi. Perkembangan teknologi sejalan dengan kecanggihan teknlogi-teknologi yang baru, siap saji, dan dapat diperoleh dengan mudah. Konsumerisme dan hedonisme ditengarai bagian dari hambatan pola  pikir  masyarakat, untuk lebih kretif dan imajinatif, sehingga daya saing bangsa-negara kita ini ditengah-tengah gobalisasi tidak tertinggal.

Tentu pancasila dan Negara sejalan dengan perkembangan dan perubahan yang memiliki esensi nilai-nilai budaya luhur dari masa-kemasa. Mengusung keberagaman dan kebersamaan. Mendorong kemajuan bangsa, dan Negara dalam memakmurkan dan mensejahterakan rakyat. Maka semestinya  masyarakat peka terhadap pacasila. Nilai-nilainya dapat memberikan ruang dalam kelanjutan kehidupan, mampu membuka cakrawala baru, meberikan azas dan pendirian dalam ranah modrenitas, menerobos ruang dan waktu, menghingakan sekat antar etnis, ras, budaya dan agama. 

Tidak dapat dipungkiri, modenitas bagian perekat antar sekat, dimensi yang tak terjaamah selama ini, kian waktu seakan tanpa batas, yang jauh main dekat, tak tampak kian namapak. Kehebatan ketnologi dimasa modern bagian dari pembangunan keberadaban manusia dimuka bumi, oleh karenanya bangsa dan Negara tentunya harus mengusung kearah kemajuan, keterbaruan dan kecangihan, meski tidak harus menghilangkan norma-norma dasar Negara.

Kemajuan
Perubahan dan harapan bangsa ini dirasakan dan diharapkan lebih baik, guna berlangsungnya keamanan dan kenyamanan dalam segala aspek. Aspek pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial dan politik dan budaya. Tentu masyarakat ingin, bangsa-negara ini, dapat dipandang oleh Negara-negara lain, sebagai bukti eksistensi masyarakat majemuk dan dinamis. 

Berbagai inovasi terus digalakan, mulai dari ide-ide kreatif, imajinatif, solutif, agar dapat diperkaya bisa dimanfaatkan buat masyarakat secara umum dapat menikmati hasil olah anak negeri, serta tentunya menjadi ispiratif, bagi sebagian masyarakat yang memiliki potensi, akan tetapi sering kali mereka masih tertidur dalam kenyamanan atau kegetiran kehidupan. 

Sering kalai mereka yang memiliki potensi, namun belum diperdayakan dan dioptimalkan. Disebabkan, karena dukungan dan fasilitas tidak ada. Para kreatifator, baik yang dilakukan oleh bangsa kita sendiri, maupun menjalin kerjasama dengan Negara luar yang sering diadakan oleh pemerintah diharapkan dapat menularkan semangat, bagi masyarakat, khususnya generasi muda pewaris moderitas.

Gaya kebarat-baratan  (westernisasi), tanpa disadari telah merasuki dan menempati, apa yang dinamakan tradisi. Berbagai kalangan kini berduyun-duyun mengaplikasikan dalam setiap keadaan. Tentu tindakan ini seakan-akan memaksa, mengintimidasi dan menelanjangi tradisi keindonesiaan, meski perlawanan sebagain kalangan untuk menyeimbangkan, dengan berbagai cara bermunculan dan terus digaungkan. Kebaruan dan kecangihan barat, memang patut diakui. Seiring persaingan global yang luas, dan melebar, barat dapat mengoyak sendi-sendi kelemahan dunia-dunia lain. Menyusup dan menjajah dengan melalui kekuasaan ekonomi, apa yang disebut ekonomi liberal dan sebagainya.

Menghunus dan mengorek kehidupan secara keseluruhan masyarakat bangsa ini. Melakukan pola-pola baru, image baru yang sering kali kita mudah terpedaya dengan tampilan, mudah terheran-heran, kagum dengan kehebatan mereka. Nyatanya tanpa disadari dibalik itu semua, berdampak buruk. Kita lihat, berapa banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) luar negeri yang berada di Indonesia. Alih-alih kegiatan sosial, justru sebaliknya mereka meyusun strategi, mencari potensi dan memotrait kelemahan. Kita patut mencurigai. Wacana ini sering kita dengar ungkapan-ungkapan para tokoh-tokoh besar Indonesia ini. Contoh lain gerakan separatis yang sering kalai muncul di bagian timur, kalau bukan dukungan mereka. 

Kehebatan kita adalah seringkali menganggap dunia barat paling hebat, maha sempurna, kagum dan mudah terheran-heran. Dari mulai gaya hidup, gaya bersosial, semuanya berkiblat kepada Barat. Dalam dunia akademis juga rupanya demikian, teori-teori barat diadopsi dalam penerapan kultur Indonesia. Kita sepakat ada benarnya mengakui teori-teori tersebut. Namun tidak semua teori cocok dengan kultur keindonesiaan. Mereka sangatlah pandai dalam tipu muslihat. Coba teori-teori yang kita pahami selama ini, manusia berasal dari kera misalnya. Ternyata teori ini, Darwin, teori bohong. Contoh lain, kita kenal penemu matematika asal barat, ternyata penemunya berasal dari Timur Tengah, yang mampu memiliki keahlian seratus disiplin ilmu, Al Khawarizmi. Contoh untuk membuka tabir sesungguhnya, sehingga bangsa kita lebih percaya diri, dan menjadi dirisendiri sesuai tradisi keindonesiaan bukan tradisi kebarat-baratan.

Fobia barat kian hari-kian nampak, sejak anak-anak hingga orang dewasa. Penyederhanaan tradisi baru, memang dipersilahkan, mudah dan dapat diterima bila masuk dalam ranah ketimuran yaitu keindonesiaan. Tradisi yang seperti apa, yaitu tradisi yang dapat mengakat nilai-nilai agama, ras, entnik budaya.  Inilah yang dianut bangsa Indonesia, sejak dulu dan hingga kini seharusnya kita jaga. Dan semestinya kita ini bagsa yang beruntung, ketibang bagsa lain-masih mencari rumusan dasar Negara. Pacasila dasar Negara kita, tegas dan lugas.    

Moralitas yang diajarkan pancasila sangat elegan dan relevan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjung-jung tinggi bahwa Tuhan di atas segalanya. KeEsaan Tuhan merupakan kenbenaran yang Haq, nyata dalam kehidupan. Kemanusian yang Adil dan Beradap sebagai bentuk keadilan, mencerminkan karakter mayasrakat Indonesia berbangsa dan bernegara.

Persatuan Indonesia bentuk kebersamaan dalam mengusung kemandirian bangsa secara terus-menerus tanpa lehan dan letih. Mengarahkan dan menyadarkan lapisan masyarakat sebagai wujud dan kepedulian-kesadaran sabab-musabab dari kebersamaan demi kemerdekaan agar sadar berangkat dari penindasan
Berpijak pada kemerdekanan. Bersama-sama kita maju, memilih dan memilah, mengusung bentuk-bentuk peraturan guna kemajuan bangsa, sehingga keadilan sosial dapat terwujud dan dirasakan segenep bangsa. Keterpurukan ekonomi kita bangun bersama, aspirasi masyarakat bagaian dari unsur pembagunan kebijakan demi kemajuan dan kesejahteraan. 

Kepedulian
Kepedulian sangat diharapkan dalam meningkatkan mutu. Mutu pemersatu dalam berbagai hal positif. Membangun, mendirikan, menyatukan prinsip-prinsip dasar bernegara dan berbangsa melalui peningkatan harkat dan martabat. Pendidikan bermutu, kwalitas semakin dimaksimalkan pemerataan ekonomi semakin diterapkan. Hal demikian itu butuh tindakan konkrit. Oleh sebab itu, pemerintah wajib turun tangan merangkul problem tersebut. 

Persoalan meningkatkan yang lebih baik harus ditanam, jangan sampai perubahan keindonesiaan menjadi kebaratan memporak-porandakan tatanan konstruktif berbangsa dan bernegara. Butuh gasan- gagasan rasional, guna membentengi arus globalisasi dewasa ini. Kita siap menyapa dunia internasional untuk menunjukan kiprah bangsa Indonesia. Tapi juga jangan tingalkan dan jangan lupakan wawasan nasional bahkan wawasan kedaerahan masing-masing individu yang mampu menhantarkan kita hidup hingga kini dalam kemajemukan.

Tersenyumlah, bangga memeluk erat kebinekaan bangsa kita, Indonesia. Jagalah keragaman yang telah dituangkan dan ditularkan para founding fathers kita. Ia, mencita-citakan dalam visi dan misinya menjadi bangsa yang adil dan beradap, makmur, sejahtera dan mampu bersatu. Ibu pertiwi menangis bila kita sebagai generasi muda dalam ranah arus globalisasi tertinggal jauh oleh Negara lain, dan lupa akan pesan-pesan serta wejangan dan nasihat-nasihat para pendiri bangsa, yang tertuang dalam pancasila. Mari kita lakukan semampu kita, menurut keahlian serta semangat kita dalam perbedaan. Ironis bila pancasila itu dilupakan. Alangkah baiknya, nilai-nilai yang terkandung dalam wasiat dan doa para pendiri bangsa, kita aplikasikan dalam mengarungi dunia modern saat ini. 

Oleh sebab itu sangatlah wajar menyikapi perubahan yang musti kita terima, denga senyum, sapa dan lapang dada, serta bijak sana. Tidak membenci dan tidak menjauh dari semua yang ada, dan kenyataan dalam dunia modern saat ini. Mari kita berkopentensi menjunjung tinggi, menciptakan inovasi, serta aktualisasi diri dalam menjunjung tinggi keindonesiaan. Semua bisa dilakukan oleh segenap elemen masyarakat, dari hal sekecil mungkin untuk ikut membangun bangsa dan Negara agar lebih maju.


  


Sabtu, 07 Juli 2012

Sunan An-Nasa’


A. Nama, kelahiran dan Wafat.
Nama lengkapnya: Abu Abdurrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali bin Sinan bin Bahr Al-Khurasani An-Nasa’i. lahir didaerah Nasa’I pada tahun 215 H. Nama Imam An-Nasa’I dinisbatkan pada nama sebuah daerah bernama Nasa’ diwilayah Khurasan yang di sebut juga dengan Nasawi disebut dalam Mu’ja, Al-Buldan bahwa daerah tersebut dinamakan Nasa’ bermula dari kisah perjalanan kaum muslimin dalam menyebarkan agama Islam
Pada waktu itu kaum muslimin telah berhasil memasuki kurasan. Ketika mereka hendak melanjutkan misi mereka memasuki daerah berikutnya, maka kamum lelaki penduduk setempat yang telah mendengar kedatangan kaum muslimin dalam jumlah besar berlari menyelamatkan diri meninggalkan daerah tersebut sehingga penduduk yang tersisa hanya kamum perempuan
Tatkala kamum muslimin sampai daerah itu dan mereka hanya menjumpai kaum perempuan tanpa ada kaum laki, maka sebagian kaum muslimin berkata.”mereka semua adalah An-Nisaa (kaum perempuan) dan kaum perempaun tidak boleh diperangi.
Pleh sebab itu. Maka biarkanlah mereka sampai suamai mereka kembali lagi.” Akhirnya, kaum muslimin pun berlalau meninggalkan daerah tersebut dan menamakan daerah itu Nasa’ yang artinya kaum perempuan. Namun menurut istilah bahasa yang benar, nama Nasa’, tapu Nisa’I atau Niswa
Beliau wafat pada hari Senen, tanggal 13 Bulan Syafar, tahun 303 H. (915 M) di al-Ramlah. Setahun sebelum ia meninggal dunia, ia pindah dari Mesir ke Damaskus. Di kota inilah beliau menulis kitab al-Khasa’is Ali bin Abi Talib (Keistimewaan Ali bin Abi Talib) yang di dalamnya menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan Ali bin Abi Thalib menurut hadis. Ia menulis kitab ini, agar penduduk Damaskus tidak lagi membenci dan mencaci Ali. Ketika ia membacakan hadis-hadis tentang keutamaan Ali tersebut di hadapan orang banyak, beliau diminta pula untuk menjelaskan keutamaan Mu’awiyah bin Abi Syofyan. Akan tetapi ia dengan tegas menjawab bahwa ia tidak mengetahui adanya hadis yang menyebut keutamaan Mu’awiyah. Oleh pendukung Bani Umayyah ia dianggap berpihak kepada golongan Ali bin Abi Talib dan menghina Mu’awiyah, karena itu ia dianiaya dan dipukuli oleh pendukung Bani Umayyah. Ada yang menyebutkan, bahwa dalam kepayahan dan keadaan sekarat akibat penganiayaan tersebut, ia dibawa ke negeri Ramlah-Palestina dan meninggal di sana lalu dikuburkan di Damaskus. Namun menurut versi yang lain dan inilah yang paling banyak dianut orang bahwa beliau dibawa ke Mekkah, kemudian dikuburkan di antara Safa dan Marwa di Mekkah. Ia meninggal pada Tahun 303 H. atau 915 M. dalam usia 85 atau 88 tahun.

B. Sifat-Sifatnya
Adz-Dzahabi berkata. Dia bermuka tampan biarpun sudah memasuki usia senja, sering mengenakan baju musim dingin, mempunyai empat istri dan senang memakan daging ayam. Dia adalah seorang syiakh yang berwibawa, bermuka cerah, ringan tangan dan berbudi luhur.” Sebagian muridnya berkata.”Abu Abdirrahman meminim perasaan anggur untuk mencerahkan mukanya
Ia juga dikenal sebagai orang yang sungguh-sungguh dalam beribadah baik pada waktu malam maupun siang hari, melaksanakan ibadah puasa sunat dan puasa dawud dengan satu hari puasa dan tidak berpuasa pada hari berikutnya secara berselang seling terus menerus, serta melakukan haji secara kontinyu setiap tahunnya. Begitu juga dalam berjihad (perang), juga selalu beliau ikuti bersama-sama dengan umat Islam. Ketika terjadi peperangan di Mesir, beliau turut serta dalam membela agama Islam dan sunnah Nabi bersama-sama dengan Gubernur Mesir dengan mencurahkan segala daya intelektualnya dan keberaniannya. Dalam suasana peperangan tersebut, beliau masih sempat meluangkan waktu untuk mengajarkan hadis Nabi SAW kepada Gubernur dan para prajurit. Dengan modal keberanian dan keteguhan hati beliau inilah, beliau berhasil menjadi ulama yang “besar”, dengan tetap selalu menyebarkan ilmu dan pengetahuan pada masyarakat.

C. Guru dan Murid-Muridnya
Guru-gurunya: ibn As-Subki berkata guru imam an-Nasa’I antara lain; Qutaibah bin Said Rahawih, hisyam bin Ammar, Isa bin Muhammad bin Nashr Al-Marwazi, Suwaid bin Nashr, Abu Kuraib, A’la. Disamping mereka ini, masih banyak yang lain, baik mereka yang di Khurasan, Irak, Syam, Mesir, Hijaz dan Jazirah.
Murid-muridnya: Al-Hafizh berkata, “orang yang meriwayatkan dari an-Nasa’I antara lain; seorang anaknay bernama Abdul Karim, Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq As-Sunni, Abul Hasan bin Al-Khodhr Al-Asyuthi, Al-Hasan bin Rusyaiq Al-Askari, Abul Qasim Hamzah bin Muhammad bin Ali Al-Kannani Al-Hafizh, Abul Hasan Muhammad bin Abdillah bin Zakaria bin Hayawaih, Muhammad bin Muawiyah bin Al-Ahmar, Muhammad bin Qasim Al-Andalusi, Ali bin Abi Ja’far Ath-Thahawi dan Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al-Muhadis. Mereka adalah perawi sunan An-Nasa’i
Termasik murid Imam An-Nasa’I adalah Abu Basyar Ad-Dulabi (teman Imam An-Nasa’i), Abu Awwanah, Abu Ja’far Ath-Thahawi, Abu Bakar bin Al-Haddad Al-Faqih, Abu Ja’far Al-Uqaili, Abu Alo bin Harun, Abu ali An-Naisaburi Al-Hafizh dan masih banyak yang lain.
D. Pengakuan Ulama Hadis atas kapasitas Keilmuanya
Abu Abdillah Al-Hakim Al-Hafizh. “aku telah mendengar Abu Ali Al-Husain bin Ali Al-Hafizh berkata. ‘Imam An-Nasa’I adalah Imam kaum muslimin dan imam dalam bidang hadits.
Al-Hakim juga berkata, ‘Abu Ali memberitahukan kepada kami, ia berkata, “Abu Abdirrahman An-Nasa’I merupakan imam dalam bidang hadits tanpa diragukan lagi.
Dalam kesempatan yang lain, Abu Ali berkata, ”Aku telah melihat dinegriku dan dalam perjalanan kehidupanku terdapat empat orang imam dalam bidang hadits. Dua orang di Naisabur, yaitu Muhaammad bin Ishaq dan Abdorrahman An-Nasa’I di Mesir dan Abdan di Ahwaz.
Abu Abdillah Al-Hakim Al-Hafizh berkata, aku telah mendengar Ja’far bin Muhammad bin Al-Harits berkata. ‘ aku telah mendengar makmun Al-Mashri Al-Hafizh berkata, “kami telah keluar bersama Abu Abdirrahman An-Nasa’I ke daerah Thursus pada tahun Al-Fida (tebusan) ri Tursus itu berkumpul para ulama huffazh semisal Abdullah bin Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Ibrahim Murabba, Abu Adzan dan Kailah unutk menetukan siapakah yang berhak menjadi wakil mereka. Dengan pemeilihan menulis nama, akhirnya mereka sepakat memilih Abu Abdirrahman An-Nasa’i
Ibn Artsir berkata, Imam An-Nasa’I mengikuti madzhab Syafi’I. oleh karena itu, dia mempunyai karya kitab Manasik’ala Madzdhab Asy-Syafi’i. dia juga seorang yang wira’I, sanggat hati-hati dan selektif
Al-Qasim al-Mutarrir berkata bahwa Imam al-Nasa’i adalah seorang Imam atau dapat juga dikatakan bahwa beliau berhak untuk dianggap sebagai seorang imam dalam bidang ilmunya.
Al-Hafiz Abu Sa’id bin Yunus berkata bahwa Imam al-Nasa’i adalah seorang ulama yang telah diakui keilmuannya, ke-siqah-annya dan kekuatan hafalannya.
Al-Khalili berkata bahwa al-Nasa’i adalah seorang yang hafiz mutqinun, telah diakui kekuatan hafalannya dan kepintarannya, dan pendapatnya sangat diandalkan dalam ilmu jarah dan ta’dil.
Al-Zahabi: al-Nasa’i adalah ulama yang padanya terkumpul lautan ilmu, disertai pemahaman dan kepintaran, dan sangat kritis terhadap seorang rawi serta mempunyai karangan yang sangat baik, dan banyak berdatangan para hafiz kepadanya. Selanjutnya beliau mengatakan juga bahwa tidak ada di antara tiga ratus orang yang lebih hafal selain dari an-Nasa`i karena dia merupakan orang yang paling tajam pengetahuannya dalam bidang hadis, paling tahu mengenai cacat hadis dan rawi yang meriwayatkannya jika dibandingkan dengan Muslim, Abu Dawud, Abu ‘Isa, serta dia merupakan penolong bagi kesamaran dan ketidakjelasan yang ada pada al-Bukhari dan Abi Zur’ah.

E. Karya-karyanya
• Al-Khasaha’ish
Ibn Hinzabah Al-Wazir berkata, “akutalh mendengar Muhammad bin Musa Al-Makmuni, sahabat Imam An-Nasa’I berkata,” aku telah mendengar ada sekelompok irang yang tidak percaya apa bila Imam An-Nasa’I mempunyai karya Al-Khasha’ish yang memuat kelebohan-kelebihan Ali bin Abi Thalib. Permasalahan yang di ingkari Imam An-Nasa’I dalam hal ini adalah menulis hadis tentang keutamaan-keutamaan yang dimiliki Muawiyah atas Ali bin Abu Thalib. Padalah, tidak dapat disangkal lagi bahwa Ali adalah manusia paling utamasetelah Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu Anhum. Ali adalah orang keempat dalam keutamaan dan kekhalifahan dari umat Islam ini secara keseluruhan
• As-sunnan Al-Kubra
Kitab ini telah diterbitkan Darul Kutub Al-Ilmiah setelah ditahqiq Doktor Abdul Gaffar Sulaiman Al-Bundari dan Sayid Kasrawi Hasan. Penahqiq kitab berkata,” kitab As-sunan Al-Kubra ini memuat lebih daridua puluh kitab (judul pembahasan) yang tidak disebutkan dalam kitab Al-Mujtaba. Ketika kitab As-Sunan Al-Kubra dan Al-Mujtaba dikomparasikan, maka ada beberapa hal yang tidak disebutkan dalam Al-Mujtaba,tetapu disebutkan dalam As-Sunan Al-Kubra. Namun, hal ini tidak selamanya begitu, karena Imam An-Nasa’I telah mencantumkanbbeberapa ta’liq dan beberapa hadits dalam Al-Mujtaba yang tidak dicantumkan dalam kitab As-Sunan Al-Kubra. Yang memuat 5.671 hadits yang termasuk dalam Kutubu As-Sittah
• Al-Mujtaba
Kitab ini dalah karta Imam An-Nasa’I yang termashur. Sedang syarah kitab yang paling terkenal adalah syarah yang dilakukan Jalaluddin As-Suyuthi dengan Haisyiyah As-Sanadi cetakan Darul Kutub Al-Ilmiah
• Tafsir An-Nasa’i
Imam An-Nasa’I juga memiliki karya yang lain sebagaiman disebutkan Fu’ad Sazkin dalam tarikh At-Turats yang diantaranya adalah’ Ash-Dhu’afa wa Al-Matrukin, Tasmiyatu Fuqaha’ Al-Amshar min Ashabi Rasulillah wa Man Ba’dahu min Ahli Madinah, Tasmiyatu Man lam Yarwi’anhu illa Rajul Wahid,’Amal Al-Yaum wa Al-Laolah dan kitab Al-Jum’ah. Sebagian kitab ini telah di cetak dan beredar dimasyarakat. Wallahu A’lam
F. Syaratnya dalam Sunan Al-Kubra dan Al-Mujtaba
Abu Amr Ash-Shalah telah mngatakan dalam kitab Miqaddimahnya dari Abu Abdillah bin Mandah bahwasanya ia pernah mendengar Muhammad bin Sa’ad Al-Barudi di Mesir berkata, ‘ diantara madzhab Abu Abdirrahman An-Nasa’I adalah meriwayatkan haids dari perawi yang para ulama ahli hadits tidak sepakat meninggalkan hadits riwayatnya
Ayarat Abu Abdirrahman An-Nasa’I ini sebagaimana syarat yang telah ditetapakan Abu Dawud. Atas semua ini, Al-Iraqi telah mengisyaratkan dalam kitabnya
Madzhab An-Nasa’I meriwayatkan orang yang tidak sepakat
Para ulama meninggalkanya yang mana madzhab ini adalah madzhab yang agak longgar
Perkataan Al-Iraqi, madzhab Imam An-Nasa’I longgar” adalah tidak menghendaki ijma’ secara khusus. Hal ini berbeda dnegan pengertian Ibn Hajar bahwa’ madzhab Imam An-Nasa’i longgar” adalah menghendaki ijma’ secara khusus. Alas an Ibn Hajar adalah bahwa setiap kritikus perawi hadis dalam setiap thabaqahnya itu tidak lepas dari Mutasayaddid (keras atau ketat) dan Mutawassuth (moderat).
Termasuk thabaqah Mustasyaddid yang pertama adalah syu’bah ketat. Kedunay adalah yahya bin Said Al-Qaththan dan Ibnu Mahdi dengan criteria Ibnu Qathtahan lebih ketat. Ketiganya adalah yahya bun Ma’in dan Ahmad bin Hmabal dnegan criteria Ibn Main auh lebih ketat.
Iamam An-Nasa;I berkata, “dalam kitabku ini, aku akan meriwayatkan dari perawi hadits sepanjang para ulama ahli hadits tidak bersepakat untuk meninggalkanya
Contoh misalkan” apa bila seorang perawi menurut Ibn Mahdi tsiqah, sedang menurut Yahya bin Saud Al-Qaththan dhaif, maka perawi yang demikian ini tidak aku tinggalkan karena Yahya Al-Qaththan adalah kritukus yang mutasyaddid. Dengan demikian halnya, maka dalam hato seseorang dengan cepat akan mengatakan bahwa madzhab Imam An-Nasa’I adalah muttasa (cenderung longgar). Padahal, sebenarnya tidak demikian. Dalam kenyataanya dia tidak banyak meriwayatkan dari para perawi yng telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bahkan lebih dari itu, Imam An-Nasa’I juga tidak meriwayatkan hadits sebagai perawi shahihain
Ahmad bin Mahmud Ar-Ramli berkata,”aku telah mendengar Imam An-Nasa’I berkata, “kerika kau berniat hendak mengumpulkan hadits dalam kitabku ini, maka aku beristiharah terlebih dahulu unutk memohon petunjuk dari Allah SWT.dalam meriwayatkan beberapa hadits dari beberapa perawi. Hal itu aku tempauh karena pada perawi hadits tersebut dapat sesuatu mengganjal dalam hatiku. Padahal akhirnya, aku lebih memilih untuk tidak meriwayatkanya, padahal hadits tersebut sudah akau miliki dnegnas anad yang ‘ali”
Olehkarena itu An-Nasa’I dalam meriwayatkan Sunan An-Nasa;I lebih mendekati shahih daripada kitab-kitab hadits yang lain. Dan juga kitab kary Imam An-Nasa’I ini adalah kitab paling bagus dan paling teratur di antara kitab As-Sunan uang lian. Susunan dalam Sunan An-Nasa’I menggunakan metode penggabungan antara Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim ditambah banyak keterangan tentang illat hadits.


KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat kami simpulkan
• Imam An-Nasa’I bukan saja dalam ahli hadis. Tapi, juga ahli fiqih dan juga ahli biografi sehingga mampu menulis tantang keagungan Ali bin Abi Thalib.
• Imam An-Nasa’I juga menulis kitab, diantara kitab yang agung adalah kitab Sunan An-Nasa’I yang merupakah revisi dari kitab sebelumya yaitu Al-Kubra yang isinya masih tercampur dengan hadis-hadis dhaif belum di seleksi, oleh sebabnya dengan Sunan An-Nasa’I telah terkumpul dengan hadits-hadits yang shahih.
• Dengan keagungan kitabnya, Imam An-Nasa’I di akui sebagai orang ulama hadits yang kompeten dan sanggat berhati-hati dalam memilah hadits. terbukti dari pengakuan para ulama dan murid-muridnya.



DAFTAR PUSTAKA
60 biografi ulama salaf. Jakarta:pustaka Al-Kautsar,2006
Ensiklopedi Islam. Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
1996 Ash-Shiddieqi, TM. Hasbi. Pokok-pokok Ilmu Dirayah Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1981.
Yakub, Ali Mustafa. Kritik Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000

.

Peran Media Dalam Mengawal Demokrasi


Era demokrasi yang dibangun bangsa ini tidak lepas dari kontribusi elemen masyarakat pada umunya. Terutama media. Media dalam sejarah telah mencatat berbagai peristiwa yang mampu membangun sistem masyarakat dengan baik. Tanpa media, perjalanan bagsa ini menuju demokrasi amat sulit.
Peran media dalam kehidupan sehari-hari sangat membantu masyarakat dapat memahami keadaan Negaranya. Media mampu menyajikan beragam informasi yang dikemas sedemikin rupa baik yang cetak ataupun elektronik semunya agar dapat dimanfaatkan oleh khalayak. Akan tetapi sering kali informasi yang disajikan, tidak sedikit yang membingungkan masyarakat.
Media dalam era demokrasi mampu meyuplai aspirasi masyarakat umum untuk Negara, sehingga pimpinan negara dapat melihat dan berkomunikasi, apasih kebutuhan yang diharapkan masyarakat? Tanpa media bangsa ini tidak bisa maju. Seluruh aspek kehidupan didorong oleh media, media penyampaian berita, baik ekonomi, politik, keamanan, kewirausahaan, kebutuhan sehari-hari dan beragam kebutuhan lain mampu terjamah.
Masyarakat pada umumnya sudah terbiasa dan terbuka dengan berita-berita di media, bahkan mampu mengolah jenis berita,  sampah atau berita yang bermaanfaat. Masyarakat kita sudah kritis dengan beragam berita yang disajikan setiap jam bahkan setiap menit. Di sinilah problematika mulai bermunculan, kebebasan media sejak reformasi menumbuhkan banyak polemik di masyarakat.
Mungkin kita masih teringat semasa Orde Baru, tidak ada media yang berani terang-terangan memberitakan hal-hal yang kurang mendidik disiarkan secara terbuka dibandingkan dengan sekarang, berita kriminalitas diberitakan secara terbuka padahal dibalik itu ada hal lain secara tidak langsung mengajarkan pola/cara berbuat kejahatan “yang harus dilakukan seseorang berbuat jahat adalah seperti ini”, itulah bahasa lain dari berita yang tidak pantas diberitakaan. Tanpa disadari, itu merupakan bagian pengajaran. Namun disisi lain, yang perlu ditekankan masing-masing individu dapat memilih dan memilah mana yang bermanfaat dan tidak.

Kepentingan
Peran media seharusnya mampu mengawal kepemimpinan menuju demokrasi. Akan tetapi, seringkasi justru tidak mampu dapat bekerja secara optimal. Independensi media seringkali terselimuti kabut kepentingan politik. Media sering kali dijadikan alat politik oleh para petinggi Negara, padahal demokrasi yang harus dikawal. Memang seharusnya adalah, media mampu mengontrol jalanya pemerintahaan, meski tidak menapikan ada partai politik. Parpol sebagai alat menuju demokrasi merupakan satu syarat sebagai lembaga resmi dalam sebuah politik. Akan tetapi, media pun juga rupanya mempunyai kepentingan yang sama, yaitu dapat mampu mengawal politik. (baca: parpol)
Kiranya media yang ada di negara ini, hingga kini belum sepenuhnya dapat bekerja dengan sendiri sebagai wadah dan corong penyampaian aspirasi masyarakat. Buktinya justru sebaliknya, media yang menjadi alat kontrol politik, bukan sebagai alat pengontrol politik-pemerintah. Media sebagai wadah tempat keluh kesah problematika masyarakat yang dialamai. Corong merupakan alat untuk menyuarakan kepada pemerintah agar keingin yang diimpikan dapat didengar dan diketahui oleh pejabat Negara. Sebaliknya media juga sebagai corong penyambung lidah pemerintah kepada masyarakat.
Ada kecenderungan memang, bahwa siapa yang kaya, pasti dapat kedudukan yang tinggi. Realita sudah jelas bahwa pemilik media besar saat ini mampu tampil lebih familier di tengah-tengah masyarakat ketimbang pemimpin atau calon pemimpin yang tidak memiliki alat media.
Seorang calon pemimpin sangat membutuhkan rumusan yang disebut marketing politik dan manajemen publisitas. Marketing politik tersebut, paling tidak setiap para calon pemimpin pandai merumuskan sebagai wacana, akan tetapi pada umunya untuk mewujudkan sangatlah sulit, terkecuali pemilik media dan pemodal. Sulit dibayangkan bila sedikit modal. Kesulitan ini karena mahalnya biyaya iklan dimedia, bandingkan dengan calon pemimpin yang memiliki media, dia sangatlah mudah untuk tampil memperkenalkan dirinya. Hal ini seakan menjadi ajang kompetensi bagi para calon, siapa yang sering muncul di media elektronik atau media cetak, dia banyak pendukungnya impikasi dari pada media effect (baca :Lilleker 1962)
Menurut (Morlino:2004) dikutip dari sumber UNDIP.ac.id, paling tidak ada tiga hal penting dalam demokrasi, pertama adalah kualitas hasil yang terkait dengan kempuan memberikan yang terbaik kepada rakyatnya. Kedua mengeni kuantias, berkenaan dengan kebebasan dan kesetaraan, dan ketiga pentingya peraturan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Lalu apakah negeri ini sudah masuk dalam ranah demokrasi? Secara alur iya, akan tetapi keinginan-dan harapan banyak semua pihak itu semunya belum terwujud.
Demokrasi yang terjadi seakan-akan kebablasan tidak mengenal batas-batas aturan, semunya mengatasnamakan demokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspersi, hak azasi manusia semunya megatakan demokrasi padahal dibalik itu faktanya banyak kesalahan dan pelanggaran.
Alih-laih bebas berpendapat tidak sedikit orang yang mencela dan mencemarkan nama baik orang lain, hal ini seirng terjadi. Kebebasan berekspresi sebebas-bebasnya seakan tidak mengenal tradisi dan adat-istiadat, HAM terjadi dimana-mana tindak kekerasan yang memakan korban, seakan membonceng dalam lingkup demokrasi.
Mana peran media sebagai pengawas demokrasi, pengawas pemerintah, pengawas pejabat Negara. Partai politik nampaknya sudah tidak dapat diandalakan lagi. Politik kita sudah tidak sakral lagi, transaksional terbuka, lobi-lobi politikpun  penuh tipudaya sehingga masyarakat gamang dalam memilih para calon pemimpin Negara menuju demokrasi, hal itu bisa dirubah bila petinggi sadar akan perbuatan nyata bukan hanya saja perkataan belaka.

Netralitas
Masyarakat sangat berharap bagaimanpun juga, media tetap pada posisi dan pendirian yang tidak mudah goyah dengan iming-iming kepada pihak lain yang ingin menjadi bagian daripada kepentinganya. Apabila netralitas sudah tercampur dengan irama kepentingan maka yang akan terjadi media akan menajdi alat penindas, alat propaganda yang dapat mematikan kejernihan pikiran rakyat. Rakyak tidak mungkin mengetahu kenegaraan yang disiarkan oleh anggota DPR, itu sangat tidak mungkin, masyarakat sangat berhartap media sebagai penyambung lidah, mampu membangun masyarakat yang cerdas dan berdedikasi.
Netralitas dan independensi harus dipegang teguh jangan sampai lepas dari gengaman. Harapan masyarakat telah disatukan pada media sebagai kawan setia mengawal demokrasi bangsa ini. Media seharusnya mamapu merubah arah demokrasi menuju yang benar (absolute), bila salah media harus berani mgetakan hal itu salah, sebab cita-cita bangsa dan para pejuang negri ini menginginkan rakyatnya makmur sentosa, namun tidak dipungkiri setiap ada pejuang pasti ada penghiat. Apabila media menjadi alat, maka akan melahirkan industri politik yang semakin luas wilayah kerusakan dan kebobrokan. Pada akhirnya tidak mampu membangun imperium demokrasi hakiki. Pengertian “industry” bukan hanya industri media saja, akan tetapi industry politikpun kian marak, oleh karenanya biyaya politik pun akan semakin tinggi.
Masyarakat dewasa ini semakin pintar, akantetapi tentu kepintaranya berdasarkan aturan yang ada, tidak serta merta menolak dan mematahkan aturan yang tidak sesuai dengan keingin masyarakat. apabila hal demikian dilakukan dengan serampangan, akan merusak tatanan demokrasi. Olehkarenanya media yang menjadi senjata bagi masyarakat dapat menyuarakan aspirasi rakyat.

Masyarakat dan Minat Baca



Tangal 31 Mei ditandai sebagai hari jadi Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca (PMGM) dalam pengkalenderan yang diterbitkan Perpustakaan Nasional. Ironis memang, hari jadi tersebut tidak diketahui oleh banyak orang, hanya sebagian golangan masyarakat kecil saja yang peduli dan konsen dalam memprakarsai pergerakan tersebut. Sebetulnya hal ini harus diketahui oleh khalayak umum, untuk mendorong semangattisme masyarakat gemar membaca.
Rendahnya minat baca di masyarakat membuat kondisi bangsa Indonesia kian hari-kian terpuruk. Tertinggal oleh bangsa lain, meraka semakin hari-semakin berkembang dan maju. Pola pikir bangsa kita belum mencapai kemajuan, disebabkan salah satunya kebiasanan negatif dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih menyibukan pembicaraan yang kurang bermanfaat, diantarnaya banyak peduli pada urusan orang lain. Membicarakan kekurangan orang, sapaan yang kurang enak didengar, dan omong kosong atau (Omdo) mengambil istilah dari guru besar UI Prof. Sarlito. Ngobrol tanpa nilai positif, hal itu dianut sebagian orang hal biasa. Masih banyak omongan yang tidak ada manfaatnya dianggap suatu yang wajar . ini realita.
Alangkah baiknya bila bangsa kita setiap saat disibukan dengan membaca, entah di rumah, dalam perjalanan, ditempat umum, di mall dan di restoran selalu memanfaatkan waktu luang untuk menambah pengetahuan. Apasaja yang dapat dibaca, menurut Dr. Shiyali Ramamrita Ranganathan tokoh ternama asal India (1892-1972), Five laws of library science  lima hukum yang menjadi acuan diantaranya, pertama, Books are for use artinya buku untuk digunakan dan dimanfaatkan. Pemanfaatanya tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan pilihan jenis bacaan itu banyak, bahan bacaan yang sesuai bila ditempat umum diantaranya membaca Koran, majalah, tabloid, novel atau komik. Sedangkan untuk bacaan di rumah seperti hasil penelitian, biografi, sejarah, politik, atau filsafat.
 Kedua, Every reader his book bahwa setiap pembaca pasti ada bukunya, oleh sebab itu perlunya mengakses informasi baik buku cetak ataupun elektronik sebagai upaya menyelaraskan keinginan dan keseriusan dalam membagun kebiasaan membaca. Ketiga, Every book its reader yang artinya kurang lebih demikian, setiap pembaca ada bukunya, hal ini dianalogikan perkembangan dunia tulis menulis sejak jaman-kejaman terus bergulir dan berkembang. Perkembangan tersebut sejak jaman lisan-tulisan-dan kini jaman digital.  
Keempat Save the time of the reader menganjurkan agar hemat waktu dalam membaca, bukan berarti menyisakan waktu sibuk dengan urusan lainya sedangkan untuk membaca tidak dipikirkan. Tetapi memanfaatkan waktu yang ada sesuai kebutuhan pembaca, Artinya sesuai kebutuhan yang harus didahulukan.  Kelima Alibrary is a growing organism terahir bermuara pada sebuah perpustakaan sebagai organisasi yang berkembang, perpustakaan dapat dimiliki siapa saja bukan hanya kelompok, golongan atau pemerintahan namun lebih dari itu perpustakaan dapat diciptakan dirisendiri dengan istilah perpustakaan pribadi. Lihat saja orang-orang hebat, mereka diselimuti berbagai buku mengisi ruangan pribadinya. 
Jelas, tidak menutup kemungkinan apabila hal tersebut diterapkan benar-benar dalam kehidupan kita dan keluarga, bukan tidak mungkin lagi 10 tahun kedepan bangsa kita akan menjadi bangsa yang maju dalam segala hal.
Ungkapan tokoh timur tengah Ragib Sirjani, “sebab seorang tidak dapat menghafal semua ilmu yang telah ia peroleh karena memang tak ada jalan itu. Maka, buku merupakan perbendaharaan yang sangat baik guna menyimpan hal tersebut, kapan iya perlukan. Kalau bukan karena buku niscahya banyak ilmu yang hilang dan takkan ditemukan”.(Aqwam:2007). Untuk merumuskan masalah ini, ada tiga hal yang saling terkait, minat baca (reading interest), kebiasanaa membaca (reading habbit) dan kemampuan membaca (reading ability).
Ketiganya saling terkait satu dengan yang lain. Minat baca sebagai upaya psikologis untuk belajar secara terus menerus, sehingga pengetahun  seakan tak pernah terpenuhi. Kebiasaan membaca, akan lebih mudah bila kebiasaan ini dijadikan tradisi dalam diri dan keluarga serta lingkungan sekitar, sehingga atmosfir positif dapat dirasakan oleh orang lain.  
Selanjutnya semakin sering membaca, maka seseorang akan terlatih dan mahir dalam membaca. Seseorang dapat melahap buku setiap hari lebih dari lima judul bahkan lebih dari itu. Semua mungkin terjadi apabila kita memulai belajar sejara berkelanjutan.
Kurang Sosialisasi
Pemerintah kiranya belum maksimal dalam peningkatan minat baca di tengah-tengah masyarakat, lebih mementingkan urusan politik ketimbang membangun peradaban keterampilan membaca. Pemerintah asik dengan partai koalisi, perdebatan politik kian hari semakin tak karuan. Bagi pelaku pastinya asik. Penulis memimpikan bila bangsa ini disibukan dengan ilmu pengetahun dan berlomba dalam karya, sudah barang tentu kehidupan ini lebih tenang dan makmur sentosa.
Masyarakat hidup rukun, tentram, pikiran tengang serta jauh dari kekerasan yang belakangan ini menjadi kekerasan sosial. Kekerasan mengindikasikan bahwa pola pikir temperamental, cenderung apatis dan tidak memiliki kendali emosi yang baik. Seorang gemar membaca sudah semestinya dia punya manajemen emosional yang baik, polapikir matang secara logis dan mampu menerjemahkan ilmu-ilmu yang diperoleh baik dari bacaan buku maupun diperoleh dari alam.
Membaca, mengajarkan kesabaran dan ketekunan, membaca mengajarkan kredibilitas dan integritas, membaca dapat memahami dirisendiri terlebih orang lain. Namun kondisi dan kenyataanya, masyarakat demikian keras, tidak lunak dalam menyelesaikan masalah. Hal ini tidak jauh dari sikap pemerintah, tentu penulis tidak subjektif, akantetapi objektivitas realitasnya demikian, para elit politik yang sering memberikan contoh kurang etis kepada masyarakat, ditambah kondisi politik yang carut-marut.
Hal ini dapat dilihat dan dirasakan diberbagai media, pemberitaan seakan diarahkan kesatu titik yaitu dunia politik. Saling serang satu dengan yang lain, politik oligarki, dan transaksional bukan politik demokrasi modern. Dinasti kepemimpinan masih kuat di negri ini, mereka para pungawa negara  bahkan diangapnya kemajuan duania baca seakan tidak begitu menarik bila di angkat dalam satu persoalan global. Mengapa demikian? Pertanyaan yang sering kali muncul dalam benak.
Seharusnya pemerintah secara terus menerus mencanangkan berbagai program, pendidikan secara meluas di tengah-tengah masyarakat dalam meningkatkan minat baca semenarik mungkin. Bukan hanya kelompok kecil saja bersuara lantang meningkatkan minat baca, namun tak diperhatikan. Pemerintah sebaiknya mulai terbuka dengan persoalan ini, marilah sama-sama meningkatkan dan menyelesaikan persoalan ini agar bangsa kita kedepan dapat dipandang bangsa lain. 
Bercermin Pada Masa Keemasan
Bila ingin maju, bangsa ini perlu bercermin pada  masa keemasan Islam ( the golden ages of Islam), peradaban ilmu pengetahuan padam masa dinasti Abassiyah dibawah kepemimpinan Harun Al-Rayid (786-809M), (baca: sejarah peradaban Islam), mampu merubah sejarah keilmuan di atas bumi ini. Pergerakan besar-besaran dalam penerjemahan buku-buku dari bangsa Yunani pada masanya sangat gencar, buku-buku berbahasa Yunani kuno diterjemahkan dalam bahasa Arab sehingga muncul istilah filsafat Yunani dan filsafat Islam.
Para penerjemah lebih banyak sebagai pustakawan pada masa itu, kita kenal mereka para tokoh-tokoh Al-Ghozali, Ibnu Sina (sebutan orang barat: Aveciena) Al-Farabi, Ibn-Rusyd (sebutan orang barat: Averous), Ibn Miskawaih, Asy-Syabusti, al-Khawarizmi, penemu angka nol dalam ilmu matematika yang dikenal sekarang Algoritma. Para tokoh dikenal dunia barat sebagai orang-orang hebat yang diyakini keilmuanya hingga kini. Tanpa pergerakan besar-besaran oleh kalangan Islam, mungkin dunia takkan cerah seperti sekarang.
Pada masa itu sejarah mencatat dunia barat belum secerah sekarang, (renaissance), barat masih gelap gulita bagaikan malam tanpa penerangan. Penyebaran Islam merambah dunia barat hingga pada akhirnya barat mengalami perubahan hingga kini mengalami kemajuan.
Pada masa Abbasiyah perpustakaan terbesar Bait Al-Hikmah, mungkin bila di Indonesia seperti Perpustakaan Nasional yang memiliki tangung jawab pada masyarakat dan tangung jawab administratif langsung kepada presiden, karena merupakan non-departemen. Masyarakat pada masa Dinasti Abbasiyah, hidupnya makmur, politik dan militer stabil, perekonomian maju pesat, perdagangan, pertanian subur dan peternakan melimpah.
Bila bangsa kita bercermin sejarah yang ada di atas, bukan mimpi yang mustahil bisa bangkit dari keterpurukan yang sekarang alami, kegelisahan berubah menjadi ketenangan, kecemasan berubah menjadi ketenteraman, kesombongan menjadi kesahajaan, dan kebencian menjadi kasih sayang.
Penulis yakin bila kita bangsa Indonesia mau berubah, pasti ada jalan. Tuhan sang pencipta alam semesta memberikan hamparan yang luas, disanalah terbentang jalan yang lurus, dalam Al-Qur’an “Iqra” yang artinya “bacalah” berawal dari baca, semua akan tampak didepan mata. Yakinlah!  

Minggu, 10 Januari 2010

EVALUASI PERPUSTAKAAN

A. Latar Belakang
Saat ini masyarakat sedang mengalami pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi informasi. Dalam ekonomi industri kapital merupakan sumber yang sangat strategis, sedangkan informasi merupakan sumber yang sangat strategis dalam ekonomi informasi. Pada masa global sekarang ini maupun masa mendatang, informasi telah menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Siapa saja yang menguasai ekonomi informasi dengan baik akan menjadi pemenang dalam persaingan hidup di masyarakat. Masyarakat informasi yang sedang berkembang ditandai dengan penyebaran informasi yang cepat dan tepat.
Dengan adanya pengevaluasian pengadaan diharapkan dapat menemukan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh staf dan atasan. Maksud dari pada contoh proposal pengevaluasin untuk menemukan jawaban dan solusi atas kendala-kendala yang menyelimuti kinerja bagian pengadaan. Dengan harapan mamapu menemukan jawaban yang menjadi pembahasan proposal.
Perpustakaan merupakan lembaga yang berfungsi pokok sebagai sumber informasi (source of information), khususnya informasi ilmiah yang dibutuhkan oleh mahasiswa, dosen, peneliti, dan sebagainya. Unit Pelaksana Teknis perpustakaan universitas merupakan lembaga yang menyediakan informasi ilmiah untuk para mahasiswa, dosen, pustakawan dan karyawan universitas, melalui koleksi yang dimiliki seperti buku, majalah, koran, dan jenis koleksi lainnya. Perpustakaan tersebut mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, terutama dharma pendidikan/pengajaran dan penelitian.
Dalam perpustakaan secara garis besar ada 2 layanan yaitu : layanan umum/pembaca dan layanan teknis. Layanan umum/ pembaca dimaksudkan untuk memberikan jasa layanan kepada pembaca yaitu anggota perpustakaan. Sedangkan layanan teknis adalah pekerjaan perpustakaan dalam mempersiapkan buku agar nantinya dapat digunakan untuk menyelenggarakan layanan pembaca. Fungsi layanan perpustakaan tidak boleh menyimpang dari tujuan perpustakaan itu sendiri. Dan tujuan dari perpustakaan itu sendiri yaitu memberikan pelayanan kepada pembaca ialah agar bahan pustaka yang telah dikumpulkan dan diolah sebaik-baiknya itu dapat sampai ke tangan pembaca. Layanan teknis sendiri ada 3 hal yaitu : pengadaan , pengolahan dan pemeliharaan bahan pustaka. Keterbatasan dana, keragaman pemakai,berkembangnya jumlah buku dan majalah yang diterbitkan

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Pembatasan masalah dalam hal ini akan di fokuskan pada evaluasi pengadaan bahan pustaka pada perpustakaan universitas.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan fenomena diatas yang digambarkan sebagai latar belakang masalah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa masalah yang terjadi adalah “Bagaimana perpustakaan universitas mengadakan kegiatan pengadaan bahan pustaka yang menunjang bagi para pemustakanya di lingkungan universitas?” yang akan didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan untuk mempersempit pembahasan
1. Bagaimana kegiatan pengadaan dilakukan di perpustakaan universitas?
2. Apa saja kendala-kendala dalam kegiatan pengadaan bahan pustaka di perpustakaan universitas ?
3. Siapa saja yang memiliki kebijakan dalam pengadaan bahan pustaka di perpustakaan universitas ?
4. Mengapa harus diadakan pengadaan bahan pustaka di perpustakaan universitas ?
C. Tujuan
1. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan pengadaan bahan pustaka di perpustakaan universitas.
2. Untuk mengetahu sipa saja yang terlibat dalam kegiatan pengadaan bahan pustakaan di perpustakaan universitas.
3. Untuk mengetahui apa yang dilakukan perpustakaan terhadap pengadaan.
D. Tinjauan Literatur
Pengadaan Bahan Pustaka Pada Perpustakaan adalah
Langkah yang pertama kali perlu dilakukan dalam proses pengadaan bahan pustaka, sebelum melakukan pemesanan adalah perlunya melakukan pengevaluasian terhadap daftar usulan bahan pustaka yang perlu diadakan dari hasil penyeleksian tersebut. Pengevaluasian tersebut dilakukan karena barang kali dari daftar hasil penyeleksian tersebut diantaranya ada beberapa item yang kemungkinan dapat di peroleh secara gratis. Pengadaan bahan pustaka dapat dilakukan dengan beberapa cara,yaitu: melalui pembelian dan pelangganan, hadiah, pertukaran bahan pustaka, wajib simpan perguruan tinggi (deposit), membuat sendiri, dan keanggotaan organisasi.
· Pembelian: pemesanan langsung dapat dilakukan pada penerbit ataupun pada toko buku.
· Hadiah: perpustakaan dapat menerima pustaka sebagai hadiah yang berarti perpustakaan dapat menghemat pembelian.
· Pertukaran bahan pustaka: sebaiknya perpustakaan menerbitkan berbagai terbitan termasuk penerbitan badan induk.
· Deposit: semua karya yang dihasilkan wajib disimpan pada perpustakaan pada keputusan rektor.
· Membuat sendiri: bahan pustaka yang dihasilkan oleh perpustakaan.
· Keanggotaan organisasi: badan induk perpustakaan menjadi anggota sebuah perhimpunan atau organisasi dan anggota dari perhimpunan tersebut memperoleh terbitan secara cuma-cuma.

E. Metodologi
1. Metode deskriptif
Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek,suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran maupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki.
2. Instrumen pertanyaan
1. Apakah Anda mengetahui tentang layanan teknis di perpustakaan?
a. Sangat mengetahui
b. Mengetahui
c. Kurang mengetahui
d. Tidak mengetahui
2. Menurut Anda, apakah bahan pustaka di perpustakaan ini membantu Anda dalam penyelesaian tugas kuliah?
a. Sangat membantu
b. Membantu
c. Kurang membantu
d. Tidak membantu
3. Menurut Anda, seberapa penting pengadaan bahan pustaka di perpustakaan?
a. Sangat penting
b. Penting
c. Tidak penting
d. Sangat tidak penting
4. Menurut Anda, apakah bahan pustaka di perpustakaan cukup relevan ?
a. Sangat relevan
b. Relevan
c. Kurang relevan
d. Tidak relevan
5. Menurut Anda, apakah perpustakaan perlu memberikan form bahan bacaan yang diperlukan oleh pengguna ?
a. Sangat perlu
b. Perlu
c. Kurang perlu
d. Sangat tidak perlu
6. Apakah Anda setuju bila perpustakaan membeli bahan pustaka setiap bulan ?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Tidak setuju
7. Menurut Anda, apakah keterbatasan dana sangat mempengaruhi pengadaan koleksi di perpustakaan ?
a. Sangat mempengaruhi
b. Mempengaruhi
c. Kurang mempengaruhi
d. Tidak mempengaruhi
8. Apakah Anda mengetahui cara apa saja yang dilakukan perpustakaan untuk melakukan kegiatan pengadaan koleksi ?
a. Sangat mengetahui
b. Mengetahui
c. Kurang mengetahui
d. Tidak mengetahui
9. Apakah Anda setuju dalam pengadaan koleksi tidak ada penyeleksian koleksi terlebih dahulu ?
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Kurang setuju
d. Sangat tidak setuju
10. Manfaat apa yang Anda peroleh dari pengadaan bahan pustaka ?
a. Tugas-tugas yang di perlukan terpenuhi
b. Adanya sumber referensi bacaan
c. Semakin gemar membaca
d. Mendapat pengetahuan.
F. Presentasi Data
Dalam penelitian ini, setelah data diperoleh dari subjek penelitian, maka tahap selanjutnya adalah mengolah data dengan cara memindahkan jawaban-jawaban responden ke dalam tabel yang kemudian dicari prosentasenya untuk dianalisa dan adapun untuk memperoleh data angket telah ditabulasikan dan diprosentasikan digunakan rumus :
P = F/N x 100
P = angka prosentase untuk setiap kategori
F = frekuensi jawaban responden
N = jumlah responden
G. Kesimpulan
Pengadaan bahan pustaka biasanya dilakukan melalui evaluasi terlebih dahulu, agar dalam memilih/memperoleh bahan pustaka sesuai kebutuhan pemakainya. Baik melalui pembelian langsung, melalui vendor, hadiah, pertukaran, dan keanggotaan organisasi. Bertujuan agar tidak menimbulkan penumpukan bahan pustaka yang tidak terpakai pada akhirnya.
Oleh sebab itu bagian pengadaan di tuntut lebih jeli dalam bekerja sama dengan atas untuk memilah bahan pustaka agar kendala-kendala yang biasa terjadi mudah diatasi, baik dengan pendanaan, penerbitan buku, dan yang lain-lain yang berkenaan dengan jalanya manajemen. Biasanya kalu tidak ada kerjasama yang baik akan membuat perpustakaan lebih sulit baik dalam memperoleh informasi tentang harga buku, yang berujung mahalnya harga buku. Dengan kerjasama perpustakaan bisa mengajukan proposal untuk di banyak lembaga profit/non profit. Jadi dalam pengadaan bahan pustaka tidak tergantung pada persoalan finansial melainkan pada tumpun persoalan menjalin kerjasama yang baik.

analisis SWOT

Nama : Sudin Antoro


ANALISIS SWOT PADA PERPUSTAKAAN
ADAB DAN HUMANIORA

PENDORONG PENGHAMBAT
Internal S W
Eksternal O T
keterangan:
Suatu institusi dalam menyusun rencana pengembangan, harus melakukan evaluasi diri (self evaluation) untuk mengetahui kondisi perkembangan dan kemajuan pada saat ini (state of the art review). Dalam evaluasi diri ini beberapa pendekatan dapat dilakukan, antara lain pendekatan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman (KKPA, atau SWOT: strength, weakness, opportunity, dan threat).
Pendekatan SWOT dapat dilakukan untuk dapat mengevaluasi kegiatan baik jangka pendek, menegah maupun jangka panjang. salah satunya adalah lembaga yang di kembangkan (Peprustakaan Fakultas Adab), di samping sebagai pelayanan dan penyedia informasi tidak kalah pentingya dan merupakan tugas berat yang di embanya untuk menjadikan perpustakaan itu tetap berjalan bahkan lebih dari itu agar bisa berkembang.
Yang jelas bahwa dalam suatu kehidupan yang ditandainya dengan gerak serta perubahan itu pasti memiliki keinginan, namun keinginan ini tidak mudah seperti membalikan telapak tangan. Akan tetapi harus, melewati fase-fase yang ada; pendorong dan penghambat. Tentu dari pada faktor ini didasari pada kekuatan ataupun kelemahan internal amupun ekternal.
Pengembangan prodak perpustakaan Fakultas Adab akhir-akhir ini sedang memasarkan Corrner berkerjasama dengan pihak asing, yang mendapatkan kucuran dana kurang lebih 37 juta. Sambutan sanggat baik ini suatu kekuatan, namun kelemahan tampak pada pengoprasian, atau perawatan. Peluang bagi perpustakaan bisa berkerjasama berkelajutan. Ancaman kebijakan yang sanggat sulit.

katalogisasi perpustakaan islam

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Islam adalah agama yang menaruh perhatian besar pada ilmu pengetahuan, hal ini terbukti dengan giatnya tulis-menulis sejak priode awal. Keterlibatan inilah yang juga mendorong cepatnya Islam menyebar ke daerah-daerah yang kaya akan buku dan perpustakaan kuno, sehingga mereka menemukan papyrus (lontar) dari Mesir dan menggali naskah-naskah kuno di daerah-daerah Telloh, Ur, Warka, Niniveh. Ugarit dan yang paling akhir Ebla yang terletak di wilayah Mesopotamia dan Mesir.
Perpustakaan-perpustakaan Islam tidak lepas dari dinamika peradaban orang-orang Romawi. Sebagaimana literatur-literatur bangsa Romawi banyak di kaji oleh orang-orang muslim pada masa abad 8-11 M. Dengan datangnya Islam terpancarlah fajar di negri Timur Tengah; pencerahan ilmu pengetahuan. Sejak Islam muncul di Arab pada zaman Nabi-para sahabat di lanjutkan masa dinasti.
Kalau kemajuan Islam pada masa Nabi dapat disebut sebagai kemajuan bidang agama dan politik; pada masa Khalifah Rasyidah sebagai kemajuan politik dan militer; pada masa Bani Umaiyyah sebagai kemajuan politik, ekonomi dan militer; maka kemajuan Dinasti Abbasiyah menambah panjang pencapaian kemajuan itu yakni politik. militer, ekonomi. sains dan peradaban. Dengan berkembangnya ilmu sains maka pada masa dinasti Abbasiyah banyak berkembang perpustakaan, meskipun sebelumya telah di pelopori oleh Khalid Ibn Yazid Ibn Mu'awiyah
Dilihat dari keberadaan perpustakaannya yang sanggat pesat, kita bisa bayangkan dampak dari konsen terhadap perpustakaan menelurkan keilmua yang sanggat pesat pula. Perpustakaan masa itu identik dengan bertumpukan kitab-kitab, Al-Qur'an, salinan-salinan dan sebagainya. Lalu bagaimana keberadaan perpustakaan pada masa itu, apakah sudah melakukan klasifikasi serta katalogisasi. lalu bagaimana sistim kerjanya.
Memang sanggat jarang literature yang membahas tentang bentuk kegiatan perpustakaan secara umum (pengadaan, pengolahan, pelestarian dan peminjaman) perpustakaan pada masa peradaban. Disini akan meninjau kegiatan pengadaan dan penolahan. Kebanyakan sejarawan meninjau dari aspek sejarah keberadaan perpustakaan secara fisik gedung, namun tidak menjamah secara substasi kegiatan perpustakaan pada masa klasik.
Seperti pendapat Mehdi Nakosteen yang dikutip Dr. Didin Saefudin mencatat ada 36 perpustakaan di Baghdad sebelum diluluhllantakan oleh pasukan Hulagu dari Mongol, diantaranya, 1. peprustakaan Bayt Al-Hikmah, 2 perpustakaan Umar Al-Waqidi yang diperkirakan memiliki 320 ekor unta beban buku-buku, 3 perpustakaan Dar Al-Ilm, 4. perpustakaan Nizamiyah, 5. perpustakaan madrasah Mutansyiriyah, 6. perpustakaan Al-Baiqani, 7. perpustakaan Muhammad Ibn-Husain dan 8 perpustakaan Ibn Kamil.

B. RUMUSAN MASALAH

Dalam pembahasan makalah ini kami membahas masalah yang berkaitan dengan perpustakaan klasik pada masa Abasiyyah meliputi :
· Bagaimana teknik system pengadaan bahan pustaka pada masa perpustakaan klasik?
· Bagaimana pengolahanya (klasifikasi, katalogisasi, penempatan koleksi) pada masa perpustakaan klasik?

C. METODE
Metode yang kami gunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode literatur dengan menggunakan beberapa sumber buku yang berkaitan dengan masalah sejarah kepustakaan Islam mengenai pengadaan bahan pustaka.

D. TUJUAN
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur dengan berkelompok untuk bahan diskusi mata kuliah Sejarah Kepustakaan Islam, selain itu juga untuk menambah pemahaman pada diri kita mengenai Sejarah Kepustakaan Islam pada masa klasik, sehingga kita memahami dan mengerti agar menjadi cerminan dari sejarah tersebut untuk dapat membangun kembali Sejarah Kepustakaan Islam pada masa kini dan yang akan datang agar islam ini benar- benar berjaya di muka bumi ini. Aamin.

PEMBAHASAN
· Teknik Sistem Pengadaan
Sistem pengadaan bahan pustaka pada masa klasik mungkin berbeda dengan masa sekarang. Kita kenal, pada masa sekarang pengadaan bahan pustaka bisa didapat dengan beberapa cara diantaranya: (1) Pembelian: pemesanan langsung dapat dilakukan pada penerbit ataupun pada toko buku. (2) Hadiah: perpustakaan dapat menerima pustaka sebagai hadiah yang berarti perpustakaan dapat menghemat pembelian. (3) Pertukaran bahan pustaka: sebaiknya perpustakaan menerbitkan berbagai terbitan termasuk penerbitan badan induk. (4) Deposit: semua karya yang dihasilkan wajib disimpan pada perpustakaan pada keputusan rektor.
(5) Membuat sendiri: bahan pustaka yang dihasilkan oleh perpustakaan. Keanggotaan organisasi: badan induk perpustakaan menjadi anggota sebuah perhimpunan atau organisasi dan anggota dari perhimpunan tersebut memperoleh terbitan secara cuma-cuma.
Sebenarnya pada masa klasik ada kemiripan dengan kegiatan pengadaan bahan pustaka masa kini. Bahwa pada masa klasik sejak dinasti Abbasiyah berdiri, banyak para dermawan mengkonsentrasikan pada ilmu pengetahuan, sehingga banyak orang yang menjadi pencatat (Nassakh) dan penyalin (Warraq) di jadikan sebagai profesi. Seorang yang bisa membaca dan menulis merupakan orang-orang yang luar biasa. Mereka di gaji oleh para petinggi negara untuk mengerjakan penyalinan kitab (naskah kuno), yang nantinya koleksi itu di simpan dan dikaji oleh para ilmuan di perpustakaan.
Dinasti Abbasiyah yakni sebagai penerus dan pengembangan kemajuan itu, yakni politik. militer, ekonomi sains dan peradaban. Ilmu sains tidak jauh dari perpustakaan sebagai tempat informasi, sehingga sanggat memepengaruhi koleksi pustaka di perpustakaan. selain itu juga sudah barang tentu seluruh keperluan dan perawatan perpustakaan ada anggaranya, tujuanya agar tetap berkembang.sanggat mustahil tidak ada anggaran sebagaimana sejaha mencatat perpustakaan pada masa itu sanggat pesat. Pengelolaan pajak dari hasil pertanian masyarakat di kembangkan dan di perdayakan lagi kemasyarakat, melalui lembaga pandidikan seperti perpustakaan, dan madrasan.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi Yang pertama pada dinasti Abasiyyah sudah melakukan pembelian di kios-kios penjualan buku. Al-Maqrizi menyebutkan tentang "daerah kios buku" itu dalam penjelasanya tentang kairo pada abad ke-15, dan kami sering dengar tentang "pojok buku" atau "pojok warraq" di Baghdad. Pojok yang sama di Damaskus, tulis Ibn Batutah pada 1327, terletak di dekat masjid Umayyah. disana terdapat kios-kios yang menjual kertas, tinta, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan buku.
Yang kedua sudah ada hadiah bahan pustaka dari orang-orang dermawan sebagai koleksi pustaka untuk di gunakan. diataranya di perpustakaan masjid yang masuk sebagai perpustakaan umum, mendapat hadiah dari petinggi negara dan orang-orang kaya. Yang ketiga pertukaran disini bisa di kategorikan sebagai pertukaran informasi dengan bangsa Romawi, malakukan penerjemahan buku-buku kuno. filsafat dan sebagainya.
Yang keempat deposit. Kegiatan ini telah dilakukan, meskipun pada masa tersebut belum ada peraturan baku tentang wajib simpan karya. Namun para bangsawan mengkhususkan penyalinan karya yang mereka bayar sebagai koleksi perpustakaan. Entah itu pribadi ataupun untuk umum. Yang kelima membuat sendiri. dari hasil penelitian para ilmuan berkembanglah cabang ilmu yang beragam seperti teologi, tata bahasa matematika dsb.
Salah satu contoh anggaran belanja lembaga di perpustakaan Dar'l ilm atau Dar'l hikmah. Anggaran tersebut mencapai 257 dinar per tahun, menurut Al-Maqrizi. daftar belanja tetapnya meliputi: karpet-karpet dari Abadan dan tempat-tempat lain, 10 dinar; kertas untuk menulis 90 dinar; petugas perpustakaan, 48 dinar; air, 12 dinar; pelayan, 15 dinar, kertas, pena dan tinta untuk para ilmuan yang memerlukanya, 12 dinar, perbaikan karpet, 1 dinar, perbaikan yang mungkin di perklukan untuk lembaran-lembaran yang hilang, 12 dinar; karpet bulu untuk musim dingin, 4 dinar. jumlah totalnya terhitung 209 dinar.
Sisanya disediakan untuk keperluan-keperluan tambahan. Buku-buku diperoleh melalui penerjemah, tetapi beberapa tambahan mungkin juga diberikan sebagai hadiah oleh khlifah. Mengingat jumlah uang yang harus dibayarkan untuk buku, seperti misalnya 100 dinar untuk buku sejarah Al-Thabari dan 60 dinar untuk Jamhara karya Ibn Durayd, maka anggaran belanja yang di uraian tadi tampaknya terlalu rendah untuk pembelian buku-buku utama. Perpustakaan serupa juga didirikan oleh Al-Hakim di berbagai tempat lain seperti Al-Fustat, Mesir Lama.
· Pengolahan
Diseluruh penjuru wilayah Islam saat itu tersebar berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti kimia, matematika, kedokteran, teknik astronomi dan lain-lain. Bahkan para penjual kitab sebagian besar termasuk orang-orang berpendidikan cukup tinggi. Mereka memahamai berbagai macam ilmu pengetahuan, sehingga mampu turut serta dalam pembicaraan dan riset-riset para ulama dan ilmuan. Disamping itu kesungguhan kaum Muslimin terhadap ilmu tampak dalam pengaturan perpustakaan, pusat-pusat penjualan kitab, jadwal diskusi dan penelitian serta kegiatan-kegiatan rutin yang mereka lakukan.
Dalam perpustakaan dibuat beberapa ruangan, (1) untuk diskusi, (2) untuk pengkajian dan penelitian, (3) untuk menyalin, (4) untuk membaca, bahkan ada pula yang menyediakan (5) ruang untuk latihan musik, sebagai kegiatan tambahan untuk para pembaca yang gemar musik, disamping untuk menambah semarak pengunjung. Dalam rak-rak perpustakaan, kitab-kitab itu tersusun berdasarkan sistem klasifikasi tertentu menurut temanya masing-masing.
Hal tersebut terbukti dan hasil penelitian terhadap beberapa perpustakaan masjid tradisional di Kairo atau Tunis umpamanya. Al-Maqrizi menuturkan pada kita mengenai perpustakaan di Shiraz. Perpustakaan masjid. Perpustakaan tersebut terdiri satu ruang berkubah panjang yang berhubungan dengan ruang-ruang penyimpanan buku. Penguasa membangun tangga-tangga dari kayu berhias kira-kira setinggi orang dengan lebar 3 yard, yang mempunyai rak-rak dan atas sampai bawah di sepanjang ruang besar dan ruang-ruang penyimpanan buku tersebut.
Namun dibagian lain, sebelum datangnya Islam hal yang pernah dilakukan oleh orang-orang Romawi dalam mengelola perpustakaan dianggapnya adalah kegiatan yang mualia sama halnya dengan konsep Islam. Mereka orang-orang istana raja yang di percaya megurus perpustakaan, merawat koleksi-koleksi yang berharga. seperti filsafat dsb.
Dalam sejarah, koleksi perpustakaan Alexandria di kelompokan menurut ruang, artinya A menyimpan buku filsafat, ruang B menyimpan buku Astronomi, dan sebagainya. Pada abad menegah, perpustakaan biara memisahkan buku tentang buku ke agamaan (teologi) dari buku keduniawian (sekuler).
Katalog yang memuat bibliografi telah dikenal sejak zaman Ashurbanipal. Hal ini terbukti dari hasil penggalian dibekas kerajaan Assyria. Katalog tersebut dikenal dengan mana penakes yang disusun oleh Callimachus, pustakawan perpustakaan Alexandria.
Data bibliografi dalam penakes memuat judul singkat sesuai dengan keterangan yang terdapat pada gulungan papirus. Pada abad-abad berikutnya katalog diterbitkan dalam bentuk buku, kemudian diganti dengan kartu. Kini dalam abad informasi, koleksi perpustakaan tetap saja disusun menurut aturan tertentu, hanya media mencatatnya kini menggunakan alat elektronik sehingga dikenal dengan katalog elektronik.
Prinsip ini nyata sekali pada klasifikasi koleksi perpustakaan modern seperti klasifikasi desimal Dewey, Library of Congress maupun Universal Decimal Clasification. semunya disusun menurut subjek. Ketiga bagan klasifikasi tersebut banyak dipakai perpustakaan. Sudah tentu ada bagan klasifikasi lain serta dalam sejarah ada pula bagan klasifikasi sebelumnya. Seperti yang telah dijelaskan diatas tersedia untuk penyimpanan. Berisi tentang, agama, tata bahasa, matematika, teknik astronomi, musik dan kedokteran.
Tokoh yang sanggat agung dalam dunia perpustakaan Islam adalah Ibn Al-Nadim pada abad ke-10. Beliau telah mengarang kitab Al-Fihrist (indeks) yang di selesaikan kurang lebih pada tahun 987 M, Di Irak. Beliu memiliki toko buku yang besar, hingga itu beliau mencatat nama-nama pengarang dan judul-judul buku yang di karang oleh orang, serta mencatat tentang subjek, lalu beliau susun dengan bahasa Arab. Di dalam toko bukunya ada salah satu ruangan untuk para pembaca serta orang-orang yang ingin berdiskusi, diantaranya para ilmuan. Beliau adalah orang yang sanggat cinta pada buku, hingga suatu ketika istrinya cemburu, karena sangking cintanya beliau pada buku.


KESIMPULAN
Pada masa klasik tepatnya pada dinasti Abasiyyah sudah terjadi kegiatan teknik pengadaan di perpustakaan. Pada masa kepemimpinan Harun Ar-Rasyid dan dilanjutkan Al-Ma'mun tepatnya pada abad 8-11 Masehi sebagai pengayaan ilmu-ilmu pengetahuan. Mengumpulkan buku-buku dari koleksi naskah kuno bangsa Yunani
Pengolahan bahan pustaka dilakukan dengan cara yang unik mulai dari cara penyalian buku hingga, klasifikasi dan penempatan koleksi di rak. Semunya di lakukan dengan penuh semanggat dengan gaya seni. Diantarnaya tempatnya nyaman, terdapat hordeng dan karpet. Meberi kesan agar pengunjung betah. Selain itu juga perpustakaan sebagai tempat perkumpulan para ilmuan, berdiskusi dan meneliti.


















DAFTAR PUSTAKA
Pedersen, J., Fajar Intelektual Islam: Buku Dan Sejarah Penyebaran Informasi Di Dunia Arab, Penerjemah Alwiyah Abdurrahman, (Bandung, Mizan, 1996).
Nasution, Harun., Islam Rasional, (Bandung:mizan, 1995).
AR, Sirojuddin., Seni Kaligrafi Islam, (Jakarta:pustaka panjimas, 1987).
Syalabu, A., Sejarah dan Kebudayaan Islam 2, (Jakarta:al-Husna Zikra, 1995).
Sou'yb, joesoef., Sejarah Daulah Abbasiyah III, (jakarta: bulan bintang,1978).
Saefudin, didin., Zaman Keemasan Islam: Rekonstruksi Sejarah Imperium Dinasti Abbasiyah, (Jakarta:Grasindo, 2002).
Al-Baghdadi, Abdurrahman., Sistem Pendidikan Dimasa Khilafah Islam, (Surabaya:Al-Izzah, 1996).
http://www.goodreads.com/story/show/6115.Perpustakaan_Islam?chapter=1/M.Djaenudin. di kutip pada tanggal 19 oktober 2009
http://echyli2n.blogspot.com/
http://202.155.15.208/berita/34533/Baghdad_Metropolis_Intelektual_Abad_Pertengahan
http://al-hudaz.blogspot.com/
http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/08/perpustakaan-islam-periode-klasik.html/ Dra. Sismarni, M.Pd. 19 oktober 2009
http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-makalah-tentang/masa-keemasan-islam-bani-abbasiyah
http://akademiislam.wordpress.com/
http://elfalasy88.wordpress.com
http://kasadaranlink.blogspot.com/2007/07/bayt-al-hikmah-dan-tradisi-intektual.html
http://whandi.net/2009/01/islam/khilafah-bani-abbas-masa-kemajuan-islam.html
http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/03/zaman-dalam-puisi-arab-mutakhir.html/ Drs.Yulizal Yunus.19 oktober 2009
http://abhicom2001.multiply.com/journal/item/182/Ketika_Perpustakaan_adalah_Rumah_Bijak
http://www.goodreads.com/story/show/6115.Perpustakaan_Islam?chapter=2/ Ahmad Sarwat, Lc. di kutip pada tanggal 19oktober 2009



Rabu, 10 Juni 2009

EKSISTENSI KERAJAAN BYZANTIUM

EKSISTENSI KERAJAAN BYZANTIUM
Perkembangan minat baca telah lama perkiraan 3000 th sebelum Masehi. Yaitu ditandainya kekuatan kerajaan Byzantium Cristantinopel atau yang sering dikenal dengan sebutan perpustakaan Alexsandria. kerajaan Yunani yang telah berdiri ratusan tahun. Dimasnya kerajaan ini sanggatlah besar dan sulit di taklukan oleh kerajaan-kerajaan lain dimasa itu
Pada saat itulah, kerajaan-kerajaan baik Byzantium maupun lainya pada masa itu mengoleksi ribuan tulisan dari bermacam ragam bentuk, mulai kari kulit-kulit binatang (parchmen), lempengan bebatuan, lapisan-lapisan tanah liat (clay tables), gambar (pictograph) tulang-tulang hewan. Semua itu bertujuan untuk melestarikan bidang karya tulis baik berupa politik atau pemerintahan maupun berupa pemikiran atau pun yang sering kita kenal filsafat. Dari koleksi itulah semunya dari hasil rampasan perang. Bukanhanya rampasan perang saja yang dikoleksi namun saat itu sudah ada jalur perjanjian dan perdagangan yang mampu menelurkan sebuah konsetual peradaban. Selin itu juga pustakawan-pustakawan yang di tugaskan adalah orang-orang ilmuan ulung
Betapa hebatnya pada masa itu telah mengabdikan jiwanya untuk melestarikan barang-barang yang memiliki nilai keiluman untuk masa sata itu, ataupun masa yang akan datang. Rupanya bangsawan saat itu telah berfikir cukup jauh untuk mempertahankan kekuatan dalam dan luar kepentigan kerajaan, namun kepentingan keturuanan agar bisa melakukan penerus bagi keturuananya. Yaitu dengan ilmu pengetahuan bangsawan saat itu telah mamapu mengukur waktu yang cukup panjang. Terbukti masa-masa keemasan kerajaan Byzantium telah menyumbangkan retorika yang cukup besar dalam dunia akademisi kontemporer. Masa-masa kerajaan banyaklah kebutuhan yang harus di perlukan oleh suatu keluarga kerajaan. dari aspek inilah maka ilmu pengetahaun untuk menunjang pergerakan politik kekuatan masing-masing kerajaan harus selalu bergulir.
Kebutuhan-kebutuhan bagi raja-raja bukan hanya politik saja, namun hal yang sekecil diantaranya tabib itu sanggat di perlukan. Sebuah ahli dalam bidang pengobatan keluarga raja-raja untuk selalu mengecek kesehatan para anggota raja. Kebutuhan para tabib bukan sebuah ritual belaka namun diantaranya melakukan penelitian berdasarkan perkembanyan keilmuan di masa tersebut. Seorang penasehat raja, serta utusan-utusan raja yang ikut berperan dalam kahsanah peradaban. Ilmu-ilmu pada masa tersebut sanggatlan berkembang pesat dari pemikir-pemikir Yunani yang begitu menakjubkan.
Sudah semestinya kemajaun dan kekuatan kerajaan Alexandria saat itu begitu tangguh dan sanggat sulit untuk di taklukan oleh kerajaan-kerajaan yang lain. Hal ini menandakan betapa hebatnaya orang-orang kerajaan dalam bidang ilmu pengetahuan diantaranya banyak mengoleksi tulisan sekalipun pada masa tersebut belum berbentuk buku dan kertas karena pada masa tersebut belum ditemukan oleh orang. Namun kehebatan orang-orang Bizantinum telah melesat pesat.
Sebagai kekuatan yang ikut menjaga eksistensi kerajaan Bizantium adalah Pustakawan yang menjaga dan memelihara khasanah ilmu dan budaya pada masa tersebut. Para pustakawan di letakan dalam posisi yang begitu tinggi setinggkat dibawanya raja. Karena pada masa saat itu melek huruf sanggatlah jarang di dapat oleh rakyat-rakyat jelata yang jauh dari kehidupan orag-orang jenisu.
Filosofis Aristoteles dianggap orang yang pertama kali mengmpulkan, mengembangkan dan melestarikan budaya masa lalu. Meskipun pada masa itu blum terdapa kertas namun sudah mengenal Papirus sejenis tumbuh-tumbuhan yang hidup di pinggiran sungai yang akhirnya pada abad pertengahan di temukan mesin pembuat kertas.

Kamis, 28 Mei 2009

PENDUDUKAN JAMAN JEPANG

PENDUDUKAN JAMAN JEPANG

PENDAHULUAN
Tentara Jepang masuk Ke Indonesia dalam rangka usaha untuk membangun imperium di Asia, Jepang telah meletuskan perang di Pasifik. Pada tanggal 8 Desember 1941 secara tiba-tiba Jepang menyerbu ke Asia Tenggara dan membom Pearl Harbor yakni pangkalan terbesar angkatan laut Amerika di Pasifik, lima jam setelah penyerangan atas Pearl Harbor itu, Gubenur Jenderal Hindia Belanda Tjandra Van Stankenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang.
Pada tanggal 11 januari tentaranya telah mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur, dan keesokan harinya komandan Belanda dipulau itu menyerah pada tanggal 12 Januari 1942. selain itu juga deretan kota-kota di wilayah Kalimantan berangsur tercaplok oleh pasukan Jepang, Balikpapan, 12 januari 1942, Pontianak 29 januari 1942, Samarinda 3 februari 1942. Sesampainya kekota Bangun pada tanggal 5 februari 1942 tentara Jepang melanjutkan penyerbuanya ke lapangan terbang Samarinda, yang waktu itu masih dikuasi tentara Hindia Belanda (KNIL).
Dalam gerakanaya ke Indonesai, pada tanggal 14 Februari 1942 diturunkan pasukan payung di Palembang. Dua hari kemudian 16 februari 1942 Palembang dan sekitarnya diduduki. Sebagai daerah sumber minyak tanah di pulau Sumatra, Kalimantan di Balikpapan dan Jawa blok Cepu. Dan berangsur akhirnya Jawa terbuka bagi tentara Jepang. Didalam menghadapi ofensif Jepang, pernah dibentuk oleh komando gabungan oleh pihak serikat ABDACOM (American British Dutch Australain Commad) yang bermarkas daerah Lembang, dekat bandung dengan panglimanya Jenderal Sir Archibald Wavell. Sedang Letnan Jenderal H. Ter Poorten diangkat menjadi panglima tentara Hindia Belanda (KNIL), dan pada akhir Februari 1942 gubenur Jendral Hindia Belanda, Tandra Van Starkenborgh telah mengungsi ke Bandung disertai oleh pejabat-pejabat tinggi pemerintah. Sekilas uraian singkat secara global awal masuknya Jepang ke Indonesia. Namun akan memfokuskan pada wilayah jawa yang akan dibahas dibawah ini.


A. PEMERINTAHAN
Bumi nusantara cukup menarik bagi bangsa-bangsa di dunia. Hal ini terbukti dari banyak bangsa lain yang ingin menginjak dan menduduki Indonesia. Maksud dan tujuanya juga masing-masing berbeda namun itu semua terbukti ingin menguras habis kekayaan alam yang terkandung dibumi nusantara. Karena itu bangsa penjajah saling berebut, dengan cara merebut simpati bangsa Indonesia pada masa-masa lampau. Demikian juga halnya dengan Jepang. Pada masa Indonesia masih tersekap oleh penjajah Belanda, radio Tokyo sering mendengarkan lagu Indonesia Raya hal ini untuk mengambil simpatik bangsa Indonesia.
Pada 1 maret 1942 mulailah pasukan-pasukan Jepang mendarat dibeberapa tempat di pulau Jawa yaitu Banten, dekat kota Indramayu antara Tayu dan Juana, dan antara Rembang dan Tuban. Selanjutnya daerah-daerah lain secara berangsur-angsur dimasuki pula oleh pasukan-pasukan Jepang. Jepang saat kedatanganya memberikan rasa simpati yang sanggat besar pada bangsa Indonesia, selain itu juga memberikan janji yang pada akhirnya pada 29 April 1942 didirikan gerakan tiga A.
Pada dasarnya Jepang saat itu sanggat menginginkan adanya perubahan secara total di struktur pemerintahan yang telah didirikan oleh penjajah Belanda. Jepang secara cepat bertindak untuk kepentingan sendiri, hal ini terbukti setelah orang-orang Eropa ditekan yang dianggap membahayakan orang-orang Jepang, namun hal itu kiranya amat tergesa-gesa. Akhirnya jualah pembentukan undang-undang nomor 7, yang isinya antara lain:
Semua bangsa asing baik laki-laki perempuan yang umurnya lebih dari 17 tahun, kecuali rakyat jepang dan rakyat Indonesia, diharuskan mendaftarkan diri menurut aturan tertentu.
1. Bangsa Eropa laki-laki 150 rupiah / Orang, perempun 80 rupiah/Orang.
2. Bangsa Cina dan lain-lain bagsa Asia (Arab, India dan lain bangsa bukan Eropa), laki-laki 100 rupiah/Orang dan perempun 50 rupaih/Orang.
ORGANISASI-ORGANISAI PADA MASA PEMERINTAHAN
1. Pemuda Asia Raya yang dipimpin oleh Sukardjo Wirjopranoto. yang semboyannya adalah: Jepang pemimpin Asia, Jepang pelindung Asia dan Jepang cahaya Asia atau dengan kata lain Nippon Cahaya Asia bahwa nanti kemerdekan akan ditangan bangsa Indonesia, namun pada akirnya kekejaman terlihat mulai tumbuh. Misalakan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak diperbolehkan, hanya lagu kebangsaan Jepang yang boleh di perdengarkan yakni Kimigayo. Namun usaha ini gagal. Akhirnya Jepang mendekati tokoh Nasionalis yang terdiri Ir. Soekarno, Drs. H. Moh. Hatta, K.H. Mansur, dan Ki Hadjar Dewantara
2. Jawa Hokokai
Untuk mendapatkan hasil sesuai harapan Jepang yakni menuju kearah Perang Timur Raya, maka untuk menarik masyarakat, Gunsekabu mengumumkan maksud serta pengertian didirikannya organisasi tersebut. Pengumuman dimaksud antara lain sebagai berikut:" oleh karena badan baru itu (Jawa Hokokai) melingkungi seluruh penduduk, maka badan-badan lain melalui sebagai badan kebaktian yang ada dibawah pimpinan pembesar-pembesar Balatentara harus bermaksud menginsyafkan penduduk semuanya akan usaha dan tindakan-tindakan pemerintah Balatentara, maka badan-badan susunan masyrakat bagian bawah harus diatur dengan sempurna dan diatur hubunganya dengan Rukun Tangga. Hal ini berindikasi bahwa Jawa Hokaki atau organisasi Kebaktian Rakyat Jawa tersebut merupakan oraganisasi utama yang terdiri dari peleburan organisasi-organisasi lainya. Sebagai bukti memiliki peraturan-peraturan dasar yang meliputi:
a. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada pemerintah Jepang.
b. Memimpin segenap rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga, berdasarkan semanggat persaudaraan antara segala bangsa.
c. Memeperkokoh pembelaan tanah air
d. Memperteguh kehidupan dimasa perang
3. Cuosangi In/kai
Cuo Sangi In atau badan pertimbangan Pusat Jakarta, sedangakn Cuo Sangi Kai atau Badan Pertimbangan disetiap karesidenan dan Kotapraja Jakarta Raya. Cuo Sangi Kai yang di bentuk pada tanggal 5 September 1943 dengan (Undang-Undang yang oleh Penglima Tentara Keenambelas) Osamu Seire Nomor 37 dimaksud sebagai badan" untuk meminta usulan dan jawaban mengenai urusan pemerintahan daerah agar pemerintah balatentara dapat di jalankan dengan pesat dan tepat. Bertugas hanya untuk mengajukan pertimbangan yang berhubungan dengan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh (Panglima Tertinggi) Saiko Sikikan atau Syutyo.
4. Dokuritzu Jumbi Coosakai
Didirikan pada 1 Maret 1945 membentuk panitia penyelidik persoalan-persoalan pokok dan kondisi lainya. Sebagai ketua K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat yang beranggotakan 60 orang termasuk didalamnya orang golongan Cina dan golongan Arab, seorang golongan peranakan Belanda dan tujuh orang anggota Jepang. Rapat pertama dilaksanakan pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945. rapat tersebut menghasilkan beberapa rumusan antara lain dasar Negara Panca Sila.
5. Gerakan rakyat baru
Jawa Hokakai rupanya tidak memberikan kepuasan kepada pihak Jepang. Sementara Dai Nippon semakin terdesak dalam mempertahankan Asia Timur Raya. Pada tanggal 2 Juli 1945 di dalam pertemuan mengumumkan pembentukan pembentukan Panitia Gerakan Baru oleh Saiko Syikikan.
6. Keimin bunka Syidosyo
Dengan dikelaurkanya peraturan pada tanggal 15 Juli 1942 tentang diperbolehkannya mendirikan perkumpulan-perkumpaulan yang bersifat hiburan. Maka untuk membatasi gerak langkah kegiatan-kegiatan tersebut Jepang emndirikan Badan Pusat Kebudayaan atau didalam bahasa Jepang Keimin bunka Syidosyo di Jakarta pada tanggal 1 April 1943

7. Organisasi kepemudaan
Pada tanggal 19 Juni 1943 diada upacara pembukaan latihan Seinedan. Sebubungan dengan terbentukanya Jawa Seiedan. Maksuda dan tujuan Jawa Seinedan cukup berat sebab bukan hanya mencangkup segi kemiliteran maupun juga segi sosial ekonomi. Karena beban Seinedan cukup berat, maka agar para anggota Seinedan dapat melaksanakan tugasnya dengan sumpah Seinedan bersama-sama
1. kami pemuda majau kedepan berani untuk menyempurnakan pembangunan dan kesejahteraan Asia Timur Raya di bawah pemimpin Dai Nippon
2. kami pemuda mementingkan budi pekerti dan menjunjung tinggi peraturan Seinedan
3. kami pemuda berusaha sekuat-kuatanya dalam pekerjaan kami masing-masing-masing dan maju terus memperbanyak hasil usaha
4. kami pemuda mempertaankan Tanah Air Kami dengan sekuat tenaga sambil bekerja bersama-sama sepenuh-penuhnya
5. kami pemuda menghargai semangat yang bersahaja dan teguh, bersumpah akan melatih jasman dan rohani, menuju cita-cita yang tinggi
8. Organisasi kemiliteran/Semi Militer
Ditandainya dengan berdirinya gerakan Peta. Untuk di daerah jawa tokoh yang mengajukan surat kepada Gunseikan pada tanggal 7 September 1943 Gatot Mangunpraja. Lalu kemudian pada tanggal 13 September 19 43 permohonan oleh sepuluh orang alim ulama terkemuka. Kemudian pada tanggal 29 September 1943 disusul juga permohonan yang disampaikan empat serangkai. Pada tanggal 3 Oktober 1943 panglima kedua Tentara keenambelas Letnan Jendral Kumakici Harada. Pada bulan itu juga dilatih puluhan calon perwira Indonesia (Korp Latihan Perwira Tentara Sukarela Tanah Air) di Jawa Beei Giygun Kanbu Renseita
9. Pengerahan Romusha
Romusha istilah bahasa Jepang yang artinya tenaga kasar dibawah tentara sekipun tidak ikut perang naum kedudukanya digarda depan untuk masyarakat yang membawa cangkul dan arit. Untuk dapat mengerahkan Romusha Departemen Urusan Dalam Negri (Naimubu) merasa perlu untuk mendirikan jawatan tersendiri. Untuk itu maka didirikanlah apa yang disebut dalam bahasa Jepang dengan Romukyoku. Romukyoku tersebut menggariskan asas-asas tertentu dengan tujuan agar tidak terjadi perlakuan-perlakuan yang kejam terhadap tenaga-tenaga pekerja yang dikerahkan tersebut.
10. Organisasi kewanitaan
Fuji Kai pada Agustus 1943 didirikan. Organisasi ini khusus bagi wanita-wanita berusia minimal 15 tahun dan maksimal tidak terbatas. Tujuanya untuk kepentingan pertahanan
Sesuai dengan peranan wanita, organisasi Fuji Kin mempunyai tugas yang mencankup lima lapangan yaitu:
1) mengutamakan kesederhanaan dan berusaha saling melatih sambil mempertinggi derajat kesusilaan wanita di Jawa
2) mengadakan bagian usaha (Zigyobu) yang permanen atau darurat. Untuk menjalankan pekerjaan yang perlu dalam lapangan memperbaiki kehidupan dibelakang garis peperangan dan dalam lapangan usaha, menabung, pendidikan, keselamatan umun dan kesehatan.
3) memajukan kesehatan tubuh dengan jalan mengadakan pidato-pidato pada rapat-rapat tentang ilmu tubuh manusia. Kesehatan dan makanan.
4) menanam keinsyafan kewajiban wanita dalam usaha penjagaan negeri diwaktu peperangan, terutama tentang memberi penerangan pertolongan pertama pada dengan jalan mengadakan pidato-pidato atau mendirikan kursus-kursus serta merapatkan perhubungan dengan Seinedan dan Keibodan.
5. mengadakan hubungan yang erat dengan sekolah-sekolah dan menegaskan pidato-pidato dan latihan tentang pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak tentnag pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak dan murid diluar sekolah dalam rumah tangga.

B. SOSIAL EKONOMI
Keadaan sosial ekonomi masyarakat sanggat dipengaruhi oleh situasai dan kondisi daerah, baik yang menyangkut masalah pemerintahan.pelitik maupun ekonomi. Maka penduduk Jepang selama tiga setengah tahun, cukup mengacaukan kehidupan seluruh rakyat Indonesia, walaupun pada mulanya Jepang mengumandangkan semboyan sebagai saudara tua, Jepang Indonesia sama-sama. Tetapai kenyataanya sifat Faccis militeris Jepang yang mempunyai tujuan untuk menguasai Asia Timur raya tidak tidak dapat disembunyikan lagi. Bukti yang jelas seluruh lapisan masyarakat harus berlatih kemiliteran bahkan sampai pada istri-istri pamong praja, tetapi kegiatan ini diutamankan pada kaum muda. Dengan demikian jelas aktifitas masyarakat sanggat ditekan. Dari segi sosial masyarakat sanggat tergantung dari kelonggaran Jepang. Pada akhirnya Jepang membentuk perekonomian (keizaibu) yang di kawal oleh Gunsaikabu mengenai penanaman bahan makanan diperkarangan-perkarangan, disusul dengan bahan pakaian seperti kapas, kapuk randu, rami nanas dan sebagainya selain itu juga dimulainya pendaftaran pohon kelapa, sapi, kerbau, kambing, kuda, ayam, bebek, entok.
Selanjutnya mengenai hasil jerih payah dalam penanaman padi, rakyat sanggat ditekan yakni.
40% menjadi milik rakyat, 30% harus disetor kepada pemerintah melalaui komisi penggilingan padi (Beikoku Seimegyo kumisi), yang diberi dengan harga pemerintah, 30%disediakan unutk bibit dan harus disetor ke lumbung desa.
C. SOSIAL BUDAYA
A. Pendidikan
Ciri khas sifat pemerintah Jepang ialah milliter, maka demi penguasaan Asia Timur Raya, sebagain penduduk diarahkan kepada teknik kemiliteran demikian pada sisitem pengajaran dan susuanan kurikulumnya, antara lain sebagai berikut:
1. mengadakan latihan bagi guru-guru dijakarta, unutk mengindoktrinasi mereka dalam kemakmuran bersama (Hakko Icciu). Para peserta latihan diambil dari tiap-tiap daerah/kabupaten.
2. sekolah umum terdiri atas:
a. sekolah rakyat 5 tahun (kokumin gakko) selain itu masih ada sekolah desa atau sekolah pertama
b. sekolah menegah 3 tahun
c. sekolah menegah tinggi 3 tahun
3. sekolah guru terdiri dari:
a. sekolah guru 2 tahun (syoto syihan gakko)
b. sekolah guru 4 tahun (guto syihan gakko)
c. sekolah guru 6 tahun (kota syihan gakko)
B. Seni budaya
pada masa-masa yang sanggat menyengsarakan rakyat seakan Indonesia menjadi Negara Jepang yang membatasi gerak langkah kebudayaan Indonesia. 20 maret 1942 dikeluarkan peraturan yang membubarkan perkumpulan-perkumpulan. Tetapi pada 15 Juli 1942 peraturan aggak di perlonggarkan yakni dapat mendirikan perkumpulan-perkumpulan yang sifatnya hiburan.
C. Komunikasi masa
Radio dimatikan bertujuan agar masyarakat Indonesia tidak dapat informasi baik positif atau negative hal tersebut dikarenakan usaha orang-orang Jepang untuk membujuk para kiyai dan pamong praja serta pemuda dan pemudi untuk membuat propa ganda tidak berjalan dengan mulus. Disurabaya semua surat kabar juga dilarang diterbitkan yang kemudian Soeara Asia pimpinan R. Tutul Surohadinoto oleh Jepang.


Kesimpulan
Kedatangan Jepang ke Indonesia adalah untuk menguasai Asia Timur Raya, oleh sebab itu Jepang mengerahan kekuatan yang ada. Baik dari daerah jepang sendiri maupun, jajahanya. Dengan motif untuk mempertahankan atau menguasai Asia Timur Raya bibawah kekuasaan Dai Nippon. Di sisilain bagi masyarakat Indonesai ada dua pendapat bagi kalangan Nasionalis. Ada sebagian merasa Jepang akan menolong bangsa Indonesia untuk membebaskan dari cengkraman penjajah. Sebagain lainya mengemukakan bahwa jepang dengan sifatnya yang fasis tidak mungkin akan membebaskan Indonesia. Namun dibalik itu ada hikamh yang hingga akhirnya bias dieasakan sampai saat ini, organisasi, kemiliteran dll.